rsuddrloekmonohadi-kuduskab.org

Loading

kuning rumah sakit

kuning rumah sakit

Kuning Rumah Sakit: Navigating Jaundice in the Hospital Setting

Kuning atau yang lebih dikenal dengan penyakit kuning adalah menguningnya kulit dan bagian putih mata yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah pigmen kuning yang dihasilkan selama pemecahan normal sel darah merah. Meskipun sering dikaitkan dengan bayi baru lahir, penyakit kuning dapat menyerang individu dari segala usia dan dapat menimbulkan tantangan diagnostik dan manajemen yang signifikan di rumah sakit. Memahami penyebab mendasar, pendekatan diagnostik, dan strategi pengobatan penyakit kuning yang didapat di rumah sakit sangat penting untuk mengoptimalkan hasil akhir pasien.

Penyebab Penyakit Kuning pada Pasien Rawat Inap

Etiologi ikterus pada pasien rawat inap seringkali bersifat multifaktorial dan dapat dikategorikan secara luas menjadi penyebab pra-hepatik, hepatik, dan pasca-hepatik. Membedakan kategori-kategori ini sangat penting untuk pengelolaan yang efektif.

  • Penyakit kuning pra-hati: Jenis penyakit kuning ini timbul akibat pemecahan sel darah merah yang berlebihan (hemolisis) yang menyebabkan produksi bilirubin berlebih. Kondisi yang dapat memicu hemolisis di rumah sakit antara lain:

    • Reaksi Transfusi: Transfusi darah yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah dengan cepat, yang mengakibatkan lonjakan bilirubin. Penggolongan darah yang cermat dan pencocokan silang sangat penting untuk mencegah hal ini.
    • Hemolisis Akibat Obat: Obat-obatan tertentu, seperti beberapa antibiotik (misalnya sefalosporin), obat antimalaria (misalnya kina), dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dapat menyebabkan hemolisis pada individu yang rentan, terutama mereka yang menderita defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).
    • Anemia Hemolitik Autoimun: Pasien rawat inap dengan kelainan autoimun yang mendasarinya mungkin mengalami eksaserbasi yang menyebabkan hemolisis.
    • Hemolisis Mekanis: Hal ini dapat terjadi karena katup jantung tidak berfungsi, oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO), atau alat kesehatan lain yang menyebabkan kerusakan fisik pada sel darah merah.
    • Sepsis: Infeksi parah terkadang dapat memicu hemolisis, yang menyebabkan penyakit kuning.
  • Penyakit kuning hati: Jenis penyakit kuning ini disebabkan oleh disfungsi hati, sehingga mengganggu kemampuan hati untuk memproses dan mengeluarkan bilirubin. Penyebab penyakit hati yang umum pada pasien rawat inap meliputi:

    • Cedera Hati Akibat Obat (DILI): Banyak obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati, mulai dari peningkatan ringan enzim hati hingga gagal hati yang parah. Penyebab umumnya termasuk asetaminofen (parasetamol), antibiotik, dan obat kardiovaskular tertentu.
    • Virus Hepatitis: Meskipun lebih jarang terjadi di rumah sakit dibandingkan di masyarakat, virus hepatitis (A, B, C, dan E) dapat terjadi, terutama melalui penularan nosokomial atau reaktivasi infeksi kronis.
    • Hepatitis Alkoholik: Pasien dengan riwayat penyalahgunaan alkohol dapat mengembangkan hepatitis alkoholik, terutama selama periode stres atau sakit.
    • Hepatitis Iskemik: Berkurangnya aliran darah ke hati, sering kali disebabkan oleh syok, gagal jantung, atau hipotensi berkepanjangan, dapat menyebabkan kerusakan sel hati dan penyakit kuning.
    • Kolestasis Terkait Sepsis: Sepsis dapat mengganggu fungsi hati dan aliran empedu, menyebabkan penyakit kuning kolestatik.
    • Hepatitis autoimun: Hal ini dapat terjadi secara akut atau sebagai eksaserbasi kondisi kronis.
    • Metastasis Hati: Pada pasien yang diketahui atau diduga menderita kanker, metastasis hati dapat mengganggu fungsi hati dan menyebabkan penyakit kuning.
  • Penyakit kuning pasca-hati: Jenis penyakit kuning ini muncul karena penyumbatan sistem empedu, sehingga mencegah ekskresi bilirubin ke usus. Penyebab umum pasca-hati pada pasien rawat inap meliputi:

    • Koledokolitiasis: Batu empedu yang berpindah ke saluran empedu dapat menyebabkan penyumbatan dan penyakit kuning.
    • Striktur Bilier: Jaringan parut atau penyempitan saluran empedu, sering kali disebabkan oleh operasi sebelumnya, peradangan, atau kolangitis, dapat menghambat aliran empedu.
    • Kanker pankreas: Tumor di kepala pankreas dapat menekan saluran empedu, menyebabkan penyakit kuning obstruktif.
    • Kolangiokarsinoma: Kanker saluran empedu juga bisa menyebabkan penyumbatan.
    • Kompresi Eksternal: Massa di luar sistem empedu, seperti pembesaran kelenjar getah bening atau tumor, dapat menekan saluran empedu.
    • Komplikasi Pasca Operasi: Penyempitan atau kebocoran empedu dapat terjadi setelah operasi saluran empedu, sehingga menyebabkan penyakit kuning.

Pendekatan Diagnostik Penyakit Kuning di Rumah Sakit

Pendekatan menyeluruh dan sistematis sangat penting untuk mendiagnosis penyebab penyakit kuning pada pasien rawat inap. Ini biasanya melibatkan:

  • Riwayat dan Pemeriksaan Fisik: Riwayat rinci harus fokus pada penggunaan obat-obatan, konsumsi alkohol, penyakit hati sebelumnya, transfusi, riwayat gangguan hati dalam keluarga, dan perjalanan baru-baru ini. Pemeriksaan fisik harus menilai tanda-tanda penyakit hati, seperti hepatomegali, splenomegali, asites, dan ensefalopati.
  • Investigasi Laboratorium:
    • Kadar Bilirubin: Mengukur kadar bilirubin total dan langsung (terkonjugasi) membantu menentukan jenis penyakit kuning. Peningkatan bilirubin indirek (tidak terkonjugasi) menunjukkan ikterus pra-hepatik, sedangkan peningkatan bilirubin direk menunjukkan ikterus hepatik atau pasca-hepatik.
    • Tes Fungsi Hati (LFT): ALT, AST, alkaline fosfatase, dan GGT memberikan informasi tentang kerusakan sel hati dan kolestasis. Peningkatan ALT dan AST menunjukkan adanya kerusakan hepatoseluler, sedangkan peningkatan alkaline fosfatase dan GGT menunjukkan adanya kolestasis.
    • Hitung Darah Lengkap (CBC): Hal ini dapat mengidentifikasi anemia, trombositopenia, dan leukositosis, yang mungkin menandakan hemolisis, penyakit hati, atau infeksi.
    • Jumlah Retikulosit: Peningkatan jumlah retikulosit menunjukkan peningkatan produksi sel darah merah, menunjukkan hemolisis.
    • Apusan Darah Tepi: Hal ini dapat membantu mengidentifikasi morfologi sel darah merah yang abnormal, seperti schistosit (sel darah merah terfragmentasi), yang mungkin mengindikasikan anemia hemolitik mikroangiopati.
    • Serologi Hepatitis: Pengujian hepatitis A, B, dan C penting untuk menyingkirkan kemungkinan hepatitis virus.
    • Penanda Autoimun: Antibodi anti-nuklir (ANA), antibodi anti-otot polos (SMA), dan antibodi mikrosomal anti-hati-ginjal (anti-LKM1) dapat membantu mendiagnosis hepatitis autoimun.
    • Ceruloplasmin: Kadar ceruloplasmin yang rendah mungkin menandakan penyakit Wilson.
    • Tingkat Antitripsin Alfa-1: Kadar yang rendah mungkin mengindikasikan defisiensi antitripsin alfa-1.
  • Studi Pencitraan:
    • USG: Ultrasonografi perut sering kali menjadi modalitas pencitraan awal untuk menilai hati, kandung empedu, dan saluran empedu. Ini dapat mendeteksi batu empedu, dilatasi empedu, dan massa hati.
    • Pemindaian Tomografi Terkomputasi (CT): CT scan memberikan gambaran yang lebih rinci tentang hati, pankreas, dan sistem empedu serta dapat membantu mengidentifikasi tumor, penyempitan, dan kelainan lainnya.
    • Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) dengan Kolangiopankreatografi Resonansi Magnetik (MRCP): MRI dan MRCP memberikan visualisasi saluran empedu dan saluran pankreas yang sangat baik dan sangat berguna untuk mengevaluasi striktur bilier dan massa pankreas.
    • Kolangiopankreatografi Retrograde Endoskopi (ERCP): ERCP adalah prosedur invasif yang memungkinkan visualisasi langsung saluran empedu dan saluran pankreas. Ini dapat digunakan untuk tujuan diagnostik dan terapeutik, seperti menghilangkan batu empedu atau memasang stent.
    • Biopsi Hati: Biopsi hati mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis penyakit hati tertentu, seperti hepatitis autoimun, cedera hati akibat obat, atau sirosis.

Penatalaksanaan Penyakit Kuning di Rumah Sakit

Penatalaksanaan penyakit kuning pada pasien rawat inap bergantung pada penyebab yang mendasarinya.

  • Penyakit kuning pra-hati: Penatalaksanaan berfokus pada mengatasi penyebab hemolisis. Hal ini mungkin melibatkan penghentian obat-obatan yang mengganggu, mengobati gangguan autoimun, menangani infeksi, atau memperbaiki penyebab mekanis hemolisis. Transfusi mungkin diperlukan untuk memperbaiki anemia.
  • Penyakit kuning hati: Penatalaksanaannya tergantung pada penyakit hati spesifiknya. Cedera hati akibat obat memerlukan penghentian obat yang menyebabkannya. Hepatitis virus mungkin memerlukan terapi antivirus. Hepatitis alkoholik memerlukan pantangan alkohol dan perawatan suportif. Hepatitis iskemik memerlukan peningkatan aliran darah ke hati. Hepatitis autoimun memerlukan terapi imunosupresif.
  • Penyakit kuning pasca-hati: Penatalaksanaan berfokus pada menghilangkan obstruksi bilier. Ini mungkin melibatkan ERCP dengan ekstraksi batu atau pemasangan stent, operasi pengangkatan batu empedu atau tumor, atau drainase bilier perkutan.

Pertimbangan Khusus pada Pasien Rawat Inap

  • Ulasan Pengobatan: Tinjauan menyeluruh terhadap daftar pengobatan pasien sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab potensial kerusakan hati atau hemolisis akibat obat.
  • Pengendalian Infeksi: Kepatuhan yang ketat terhadap praktik pengendalian infeksi sangat penting untuk mencegah penularan virus hepatitis nosokomial.
  • Dukungan Nutrisi: Pasien dengan penyakit hati mungkin memerlukan dukungan nutrisi untuk menjaga asupan kalori yang cukup dan mencegah malnutrisi.
  • Pemantauan: Pemantauan ketat terhadap tes fungsi hati, kadar bilirubin, dan parameter relevan lainnya sangat penting untuk menilai respons terhadap pengobatan.

Menavigasi penyakit kuning di rumah sakit memerlukan pemahaman komprehensif tentang beragam etiologinya, pendekatan diagnostik yang cermat, dan strategi manajemen yang disesuaikan. Dengan mengatasi penyebab yang mendasari dan memberikan perawatan suportif, dokter dapat mengoptimalkan hasil bagi pasien penyakit kuning yang dirawat di rumah sakit.